Rekayasa Kendali Menggunakan Modul Sekuensial, PLC Siemens S7-300 dan Festo Pneumatic Plant

Postingan ini merupakan sebuah postingan panjang mengenai percobaan Praktikum Kuliah Rekayasa Kendali 1 di Jurusan D4 Teknik Mekatronika, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS / EEPIS) dengan dosen pembimbing Bapak Eko Budi Utomo.


Modul Sekuensial

Modul sekuensial ini dibuat oleh pihak jurusan yang bekerja sama dengan mahasiswa untuk kelengkapan fasilitas praktikum di jurusan. Dapat dilihat Bentuk dari modul seperti pada foto berikut ini.

Modul Sekuensial
Gambar 1.1 Modul Sekuensial

Terdapat empat bagian pada modul tersebut yaitu Relay, Switch, Lampu, Timer dan Counter. Yang tampak pada gambar bukanlah sebuah komponen relay, timer atau counter melainkan hanya sebuah jack yang dapat disambungkan sesuai dengan rangkaian yang dibutuhkan. Barisan jack paling atas disusun secara seri yang akan dihubungkan pada vcc sedangkan barisan jack paling bawah disusun secara seri yang akan dihubungkan pada ground. Terdapat dua jenis switch yaitu switch normally open dan switch normally closed. pada.  Switch normally open adalah sebuah switch dimana akan menghubungkan rangkaian jika tombolnya ditekan. Switch normally closed adalah sebuah switch dimana akan menghubungkan rangkaian jika tombolnya tidak ditekan.

Penggunaan Relay

Relay adalah sebuah saklar yang dikendalikan oleh medan magnet yang muncul akibat diberikannya arus pada coil didalam relay. Relay memiliki dua jenis saklar yaitu normally closed dan normally open. Saklar normally closed adalah saklar yang langsung tersambung jika tidak ada arus yang mengalir pada coil dan akan terputus jika ada arus yang mengalir pada coil. Sedangkan saklar normally open adalah kebalikan dari saklar normally closed.

Modul ini memiliki enam buah relay dan sebuah relay yang digunakan pada modul memiliki sebuah coil dan empat buah saklar. Keempat buah saklar tersebut secara bersama memiliki karakteristik yang sama, maksudnya jika relay sedang dialiri arus, maka saklar normally open akan mendapatkan arus listrik dan saklar normally closed akan terputus.

Pada praktikum ini, diberikan empat buah rangkaian yang harus diujicobakan. Rangkaian tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

1 23

4 5 6

Gambar 1.2. Rangkaian Relay Uji coba

Pada rangkaian diketehui terdapat simbol PBi (Push Button), Ri (Coil Relay), Li (Lamp) dan Ri-j (Saklar pada relay). i dan j adalah indeks berisi 1,2,3 .. n.

Rangkaian pertama adalah sebuah rangkaian AND, dimana kita harus menekan dua buah tombol PB1 dan PB2 untuk menyalakan memicu coil relay 1 dan membuat saklar relay 1-1 menjadi close sehingga menyalakan lampu.

Rangkaian kedua adalah sebuah rangkaian OR dengan saklar relay yang digunakan adalah saklar normally closed. Hal ini membuat jika salah satu dari tombol PB1 atau PB2 ditekan maka akan memicu coil dan memutuskan lampu.

Rangkaian ketiga adalah rangkaian yang menggunakan dua buah relay. R1 dapat diaktifkan setelah PB1 ditekan. Hal tersebut akan menghubungkan R2. Jika ingin menyalakan L1, maka dibutuhkan PB2 yang harus ditekan.

Rangkaian keempat membutuhkan dua buah relay dan merupakan kombinasi dari rangkaian AND dan OR. Dibutuhkan PB1, PB2 dan PB3 yang ditekan untuk dapat mengaktifkan R1 dan R2 sehingga saklar normally closed R1-1 dan R2-2 yang dipasang seri dapat terhubung.

Rangkaian kelima adalah sebuah rangkaian self-conservatif. Rangkaian self-conservatif adalah rangkaian yang membutuhkan sebuah pemicu saja dan rangkaian akan menyala terus menerus hingga diputuslah sumber pada coil. Berbeda dengan rangkaian sebelumnya yang mengharuskan penekanan tombol secara terus menerus, dengan self-conservatif kita hanya membutuhkan menekan PB1 sesaat dan lampu akan menyala terus menerus. PB2 yang terpasang normally closed dapat menjadi sebuah switch-off dimana jika ditekan akan membuat coil menjadi terputus.

Rangkaian terakhir adalah sebuah rangkaian yang mengkombinasikan push button normally open dan push button normally closed.

Berikut adalah rangkaian self-conservatif yang menggunakan relay

Penggunaan Timer

Timer atau Time Delay Relay (TDR) pada dasarnya adalah sebuah relay yang diberikan delay waktu tertentu sebelum akhirnya mengaktifkan saklar pada timer. Berikut ini adalah rangkaian rangkaian untuk diuji coba.

1
2
3
4

Gambar 1.3 Rangkaian Timer Uji Coba

Coil pada timer ditandai dengan dengan simbol Ti dan Ti-j adalah saklar dari Ti. Sama seperti percobaan sebelumnya, kita menggunakan relay dan push button. Untuk menggunakan timer, kita terlebih dahulu diharuskan untuk memutar bagian atas dari TDR untuk setting waktu sebelum timer diaktifkan.

Rangkaian pertama adalah rangkaian paling sederhana dari timer. Dengan menekan tombol selama waktu yang ditentukan lalu coil akan memicu saklar untuk menyalakan lampu L1.

Rangkaian kedua adalah mencoba menggunakan dua buah timer. Hal ini bisa dibilang rangkaian cascade (menjumlahkan timer). Hal ini dikarenakan waktu timer yang terbatas dan jika ingin dilakukan timer dengan waktu yang lebih lama. Setelah T1 aktif, rangkaian akan menunggu T2 aktif hingga akhirnya dapat menyalakan lampu.

Rangkaian ketiga adalah rangkaian gabungan antara relay dan timer. Dengan menekan PB, maka akan mengaktifkan coil pada relay dan terjadilah self-conservatif untuk menunggu waktu aktif pada timer. Hal ini sangat berguna jika user tidak ingin untuk selalu menekan PB hingga waktu tunggu TDR berakhir.

Rangkaian keempat adalah rangkaian flip-flop lampu. Hal ini dilakukan dengan menggunakan dua buah timer yang diaktifkan secara bergantian sehingga lampu juga dapat bergantian menyala.

Ini adalah video demonstrasi dari rangkaian keempat mengenai flip flop

Penggunaan Counter

Digital Counter Relay atau counter adalah sebuah perangkat counter yang dapat menghitung berapa kali clock atau input diberikan lalu coil akan diaktifkan dan merubah posisi dari saklar. Sama seperti relay, counter memiliki normally closed dan normally open. Jika kita membutuhkan sebuah sistem yang hidup pada hitungan ke-n, maka sistem dihubungkan dengan pada normally open.

Gambar 1.6. Contoh Counter yang Digunakan

Counter memiliki penghitung yang dapat dikontrol. Counter juga dapat dilakukan cascade, yaitu menjumlahkan perhitungan pada counter pertama dan counter kedua. Counter adalah sebuah perangkat kontrol yang sangat sering digunakan seperti misalnya di tempat parkir, penghitung benda masuk dan sebagainya.

Sayangnya, saya tidak memiliki data lebih untuk dianalisa lebih lanjut mengenai counter.

Advertisements

Pendapat anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s